Monday, September 24, 2012

Muhammad & Sahabah Di Dalam Bible bhg. 6


Oleh : M.I.A./Imran Haaz

Bismillahir Rahmanir Raheem..

Kemunculan Rasulullah s.a.w. telah diberitakan serta ditunggu-tunggu lebih awal oleh manusia-manusia yang masih beriman kepada Allah s.w.t. Hampir semua jalan-jalan menuju Allah telah mengalami rencatan serta korupsi disebabkan perbuatan-perbuatan ahli kitab. Berikutan dengan kerosakan yang berlaku ini, manusia-manusia yang merindui Allah s.w.t., menunggu dengan penuh sabar  akan janji yang pernah Allah s.w.t. berikan kepada mereka, bahawa pada masa hadapan yang terdekat nanti, akan lahirlah ke dunia seorang insan yang digelarkan oleh Penciptanya sendiri sebagai Rahmat Buat Sekelian alam. Berpusu-pusulah mereka-mereka yang beriman kepada Allah yang janji-janjiNya menunggu saat kedatangan serta kelahiran penutup segala nabi dan rasul.

Hari kelahiran baginda bukan sahaja ditunggu-tunggu sejak ribuan tahun lamanya, malah bagi yang beriman kepada janji-janji Allah yang Allah s.w.t. maklumkan kepada generasi orang-orang yang beriman kepada Allah sebelum Islam dilengkapkan pada hayat baginda Rasulullah s.a.w., mereka mengambil serius akan semua tanda-tanda yang ditafsirkan mereka sebagai petunjuk yang menyatakan kelahiran tersebut bakal berlaku. Mereka menggerakkan diri mereka untuk berada dekat dengan tempat di mana kelahiran serta permastautinan baginda Rasulullah s.a.w. bakal berlaku.


Salah sebuah kisah yang terkenal berkenaan kesungguhan manusia-manusia yang beriman kepada Allah dan RasulNya sebelum kelahiran Rasulullah s.a.w. itu sendiri ialah kisah perjalanan panjang seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yang dikenali dengan nama Salman al Farisi.

Kisahnya dicatatkan di dalam Sirah Nabawaiyyah Ibnu Hisyam seperti berikut:

Ibnu lshaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshari berkata kepadaku dari Mahmud bin Labid dari Abdullah bin Abbas yang berkata bahwa Salman Al-Farisi berkata kepadaku dengan mulutnya sendiri.

Kata Salman Al-Farisi, “Aku orang Persia, tepatnya dari Asfahan di desa yang bernama Jayyu. Ayahku seorang tokoh di desaku dan aku adalah makhluk Allah yang paling dicintainya. la amat mencintaiku hingga ia menjagaku di rumah sebagaimana anak gadis dipingitan di rumah. Aku serius memeluk agama Majusi hingga aku menjadi penjaga api yang harus terus menyala dan tidak boleh padam walau sesaat pun.

Ayahku mempunyai ladang yang sangat luas. Pada suatu hari, ayah disibukkan dengan bangunan, kemudian berkata kepadaku, “Anakku, pada hari ini aku sibuk dengan bangunan ini hingga tidak mempunyai waktu untuk menguruskan ladangku. Oleh karena itu, pergilah engkau ke ladang!”

Ayahku memerintahkan beberapa hal yang harus aku kerjakan, kemudian dia berkata kepadaku, “Jangan engkau terlambat pulang kepadaku, sebab jika engkau terlambat pulang kepadaku, engkau lebih bererti bagiku daripada ladangku dan engkau akan membuatku lupa segala urusan yang ada.”

Salman Tertarik kepada Agama Nasrani
Salman berkata, “Kemudian aku pergi menuju ladang ayahku seperti diperintahkan kepadaku. Dalam perjalanan ke ladang ayahku, aku melewati salah satu gereja milik orang-orang Nasrani, dan aku terdengar suara-suara mereka ketika mereka sedang mengerjakan solat di dalamnya. Aku tidak tahu banyak perkara mengenai manusia, karena aku dijaga ayah di rumah. Ketika aku mendengar suara-suara mereka, aku masuk kepada mereka untuk melihat dari dekat apa yang sedang mereka kerjakan didalamnya.

Ketika aku melihat mereka, aku kagum kepada solat-solat mereka dan tertarik kepada perlakuan mereka. Aku berkata, ‘Demi Allah, agama orang-orang ini lebih baik daripada agama yang aku peluk. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam. Aku membatalkan pergi ke ladang ayahku. Aku berkata kepada orang-orang Nasrani tersebut, “Agama ini berasal dari mana?” Mereka menjawab, “Dari Syam.”

Setelah itu, aku pulang ke rumah dan ternyata ayahku mencariku, dan aku membuatnya tidak mengerjakan pekerjaannya. Ketika aku telah kembali kepadanya, ayahku berkata kepadaku, “Anakku, dari mana saja engkau? Bukankah engkau telah membuat perjanjian denganku?” Aku berkata, “Ayah, aku tadi berjalan melewati orang-orang yang sedang mengerjakan shalat di gereja mereka, kemudian aku kagum pada agama mereka yang aku lihat. Demi Allah, aku berada di tempat mereka hingga matahari terbenam.”
Ayah berkata kepadaku, “Anakku, tidak ada kebaikan pada agama tersebut. Agamamu, dan agama nenek moyang lebih baik daripada agama tersebut.”

Aku berkata, “Tidak. Demi Allah, agama tersebut lebih baik daripada agama kita.’
Setelah kejadian tersebut, ayah mengkhawatirkanku. la ikat kakiku dan memingitku di rumahnya. Aku mengutus seseorang kepada orang-orang Nasrani dan aku katakan kepada mereka, “Jika ada rombongan dari Syam datang kepada kalian, maka khabarkan aku tentang mereka.”

Tidak lama setelah itu, datanglah pedagang-pedagang Nasrani dari Syam, kemudian mereka menghubungiku. Aku katakan kepada mereka, “Jika mereka telah selesai memenuhi urusan mereka, dan hendak pulang ke negeri mereka, maka beri izin aku untuk aku diizinkan mengikuti mereka.”

Salman berkata, “Ketika para pedagang Nasrani hendak kembali ke negerinya, orang-orang Nasrani memberikan kepadaku maklumat tentang mereka.

Kemudian aku buangkan rantai dari kakiku dan pergi bersama mereka hingga tiba di Syam. Setelah tiba di Syam, aku bertanya, “Siapakah pemeluk agama ini yang paling banyak ilmunya?” Mereka menjawab, “Uskup di gereja.”

Kemudian aku datang kepada uskup tersebut dan berkata kepadanya, “Aku amat tertarik kepada agama ini. Jadi aku ingin sekali bersamamu, dan melayanimu di gerejamu agar aku dapat belajar darimu dan bersolat bersamamu.’

Uskup berkata, “Masuklah!’ Aku pun masuk kepadanya, namun uskup tersebut nyata seorang yang jahat. la menyuruh pengikutnya bersedekah. Tapi ketika mereka telah mengumpulkan sedekah tersebut, dia menyimpannya untuk dirinya dan tidak membbahagikan sedekah tersebut kepada orang-orang miskin, hinggakan dia berhasil mengumpulkan tujuh tempayan penuh berisi emas dan perak. Aku sangat marah kepadanya atas tindakannya tersebut. Tidak lama kemudian uskup tersebut meninggal dunia.

Orang-orang Nasrani berkumpul untuk menguburnya, namun aku katakan kepada mereka, “Sesungguhnya, orang ini jahat. la menyuruh kamu bersedekah, namun jika kamu berikan sedekah kepadanya, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak membahagikannya sedikitpun pun kepada orang-orang miskin.”

Mereka berkata, “Dari mana engkau mengetahui akan hal ini?” Aku katakan kepada mereka, “Mari aku tunjukkan tempat penyimpanannya kepada kalian.”  Mereka berkata, “Tunjukkanlah kepada kami tempat penyimpanannyal” Aku tunjukkan tempat penyimpanan uskup tersebut kepada mereka, kemudian mereka mengeluarkan tujuh tempayan yang penuh dengan emas dan perak. Ketika mereka melihat ketujuh tempayan tersebut, mereka berkata, “Demi Allah, kita tidak akan mengkebumikan mayat uskup ini.”

Mereka menyalib uskup tersebut dan melemparinya dengan batu. Setelah itu, mereka menunjuk orang lain untuk menjadi uskup pengganti.”

Salman Berkhidmat Kepada Uskup Yang Saleh
Salman berkata,“Aku tidak pernah melihat orang yang solat lima waktu yang lebih mulia, lebih zuhud di dunia, lebih cinta kepada akhirat, lebih tekun di siang dan malam hari dari uskup baru tersebut. Aku mencintai uskup tersebut dengan cinta yang tidak ada duanya. Aku tinggal bersamanya lama sekali hingga akhirnya ajal menjemputnya.

Aku katakan kepadanya, “Hai Fulan, sungguh aku telah hidup bersamamu dan aku mencintaimu dengan cinta yang tidak ada duanya. Sekarang seperti yang engkau lihat telah datang keputusan Allah Ta’ala kepadamu, maka aku engkau akan titipkan kepada siapa?”

Uskup tersebut menjawab, “Anakku, demi Allah, aku tidak tahu akan ada orang yang seperti diriku. Manusia sudah banyak yang meninggal dunia, mengubah agamanya, dan meninggalkan apa yang tadinya mereka kerjakan, kecuali satu orang di Al-Maushil, yaitu Si Fulan. la seperti diriku.   Pergilah engkau kepadanya!”

Salman Bersama Uskup Al-Maushil

Salman berkata, “Ketika uskup tersebut meninggal dunia dan dikuburkan, aku pergi kepada uskup Al-Maushil. Ketika tiba di sana, aku katakan kepadanya, “Hai Fulan, sesungguhnya uskup Si Fulan telah berwasiat kepadaku ketika hendak meninggal dunia agar aku pergi kepadamu.”

Ia menjelaskan kepadaku bahwa engkau seperti dia. Uskup tersebut berkata, ‘Tinggallah bersamaku.” Aku kemudian menetap bersamanya.  Aku melihat dia orang yang sangat baik sepertimana cerita sahabatnya.

Tidak lama kemudian uskup tersebut meninggal dunia. Menjelang meninggal dunia, aku berkata kepadanya, “Hai Si Fulan, sesungguhnya uskup Si Fulan telah berwasiat kepadaku agar aku pergi kepadamu dan sekarang keputusan Allah telah datang kepadamu seperti yang engkau lihat, maka kepada siapa aku engkau wasiatkan? Apa yang engkau perintahkan kepadaku?”

Uskup berkata, “Anakku, demi Allah, aku tidak tahu ada orang yang seperti kita kecuali satu orang saja di Nashibin. yaitu Si Fulan. Pergilah kepadanya!”

Salman Pergi kepada Uskup Nashibin
Salman berkata, “Ketika uskup tersebut telah meninggal dunia dan dimakamkan, aku pergi kepada uskup Nashibin. Aku jelaskan perihal diriku kepadanya dan apa yang diperintahkan dua sahabatku kepadanya. la berkata, “Tinggallah bersamaku.” Aku tinggal bersamanya, dan aku dapati dia seperti dua sahabatnya yang telah meninggal dunia. Aku tinggal bersama orang terbaik. Demi Allah, tidak lama kemudian ajal menjemputnya.

Menjelang kematiannya, aku berkata kepadanya, “Hai Si Fulan, sungguh Si Fulan telah berwasiat kepadaku agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian Si Fulan tersebut berwasiat kepadaku agar aku pergi kepadamu, maka kepada siapa aku engkau wasiatkan? Apa yang engkau perintahkan kepadaku?”

Uskup tersebut berkata, “Anakku, demi Allah, aku tidak tahu ada orang yang seperti kita dan aku perintahkan engkau pergi kepadanya kecuali satu orang di Ammuriyah wilayah Romawi (Di dalam wilayah Turki kini).

Ia sama seperti kita. Jika engkau mahu, pergilah kepadanya, kerena ia sama seperti kita!”

Salman lantas pergi kepada Uskup Ammuriyah dan la Berwasiat agar Mengikuti Nabi dan Menjelaskan Sifat Nabi kepadanya. Salman berkata, “Ketika uskup Nashibin telah meninggal dunia dan disemayamkan, aku pergi kepada uskup di Ammuriyah. Aku jelaskan perihal diriku kepadanya. la berkata, “Tinggallah bersamaku.”

Aku tinggal bersama orang terbaik sesuai dengan petunjuk sahabat-sahabatnya dan perintah mereka. Aku bekerja hingga aku mempunyai beberapa ekor lembu dan kambing.

Tidak lama kemudian, uskup tersebut juga meninggal dunia. Menjelang kematiannya, aku bertanya kepadanya, “Hai Si Fulan, sungguh aku pernah tinggal bersama Si Fulan kemudian ia berwasiat kepadaku agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian Si Fulan tersebut berwasiat kepadaku agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian Si Fulan tersebut berwasiat kepadaku agar aku pergi kepada Si Fulan, kemudian Si Fulan tersebut berwasiat kepadaku agar aku pergi kepadamu, maka kepada siapa aku engkau wasiatkan? Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’

Uskup berkata, “Anakku, demi Allah, sungguh aku tidak tahu pada hari ini ada orang-orang yang seperti kita yang engkau dapat aku perintahkan pergi kepadanya, namun telah dekat datangnya seorang Nabi. Ia diutus dengan membawa agama Ibrahim a.s.  dan muncul di negeri Arab. Tempat hijrahnya adalah daerah di antara dua daerah yang berbatu dan di antara dua daerah tersebut terdapat kurma. Nabi tersebut mempunyai tanda-tanda yang tidak bisa disembunyikan; ia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat cap kenabian.

Jika engkau mampu pergi ke negeri tersebut, pergilah engkau ke sana!’”

Salman Pergi ke Lembah Al-Qurra
Salman berkata, “Kemudian uskup tersebut meninggal dunia dan dimakamkan. Sedang aku tetap tinggal di Ammuriyah hingga beberapa lama.

Setelah itu, sekelompok pedagang berjalan melewatiku. Aku berkata kepada mereka, “Bawalah aku ke negeri Arab, niscaya aku serahkan lembu dan kambingku ini kepada kalian!” Mereka berkata, “Ya.”

Aku berikan lembu dan kambingku kepada mereka, dan mereka membawaku. Namun ketika tiba di lembah Al-Quia, mereka berbuat zalim kepadaku. Mereka menjualku kepada seorang Yahudi sebagai seorang hamba. Kemudian aku tinggal bersama orang Yahudi tersebut, dan aku melihat pohon-pohon kurma. Aku berharap kiranya negeri ini yang pernah diisyaratkan sahabatku.”

Salman Tiba di Madinah
Salman berkata, “Ketika aku tinggal bersama orang Yahudi tersebut, tiba-tiba saudara misan orang Yahudi yang berasal dari Bani Quraidzah tiba dari Madinah. Ia membeliku dari orang Yahudi tersebut, dan membawaku ke Madinah. Demi Allah, ketika aku melihat Madinah, aku lihat ia sama seperti tempat yang pernah  dijelaskan sahabatku. Aku menetap di sana.

Rasulullah s.a.w. kemudian diutus sebagai Nabi dan menetap di Makkah dalam jangka waktu tertentu dan aku tidak mendapat informasi tentang beliau, karena kesibukanku sebagai seorang hamba. Tidak lama setelah itu, Rasulullah s.a.w. berhijrah ke Madinah.”

Berita Penghijrahan Rasulullah s.a.w.

Salman berkata, “Demi Allah, aku berada di atas pohon kurma sedang mengerjakan beberapa pekerjaan untuk tuanku, sedang tuanku duduk di bawah. Tiba-tiba saudara misan tuanku datang dan berdiri di depannya. Saudara misan tuanku berkata, ‘Hai Fulan, semoga Allah membunuh Bani Qailah. Demi Allah, sesungguhnya mereka sekarang berkumpul di Quba’ untuk menyambut kedatangan seorang laki-laki dari Makkah, dan mereka mendakwa bahawa orang tersebut adalah seorang Nabi.”

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshari berkata kepadaku dari Mahmud bin Labid dari Abdullah bin Abbas yang berkata bahwa Salman berkata, “Ketika aku mendengar ucapan saudara misan tuanku, aku menggigil seolah-olah akan jatuh mengenai tuanku. Kemudian aku turun dari atas pohon kurma dan bertanya kepada saudara misan tuanku, “Apa yang engkau katakan tadi?”

Tuanku marah kepadaku dan menamparku dengan cukup setelah mendengar pertanyaanku, sambil berkata, “Apa urusanmu dengan persoalan ini? Pergi ke sana dan siapkan pekerjaanmu?” Aku berkata, “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mamastikan apa yang diucapkannya.”

Salman Mempelajari Risalah Muhammad s.a.w.
Salman berkata, “Aku mempunyai sesuatu yang telah aku siapkan. Pada petang hari, aku mengambilnya kemudian pergi kepada Rasulullah s.a.w.  di Quba’. Aku masuk kepada beliau dan berkata kepadanya, “Aku mendapat maklumat bahawa engkau orang yang salih. Engkau mempunyai sahabat-sahabat yang terasing dan memerlukan bantuan. Inilah sedekah dariku. Aku melihat kalian lebih berhak daripada orang-orang lain.” Aku serahkan sedekah tersebut kepada Rasulullah s.a.w., kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Makanlah.” Beliau menahan mulutnya dan tidak memakan sedikit pun dari sedekahku. Aku berkata dalam hati, ‘Ini tanda pertama.’

Kemudian aku mohon meminta diri  dari hadapan Rasulullah s.a.w.. Setelah itu, aku mengumpulkan barang yang lain, sementara Rasulullah s.a.w. telah berpindah ke Madinah. Aku datang semula kepada beliau dan berkata kepadanya, ‘Sungguh aku melihatmu tidak memakan harta sedekah. Inilah hadiah khusus aku berikan kepadamu.’

Rasulullah s.a.w. memakan hadiahku dan memerintahkan sahabat-sahabatnya ikut makan bersamanya. Aku berkata dalam hati, ‘Ini tanda kedua.’

Setelah itu, aku datangi Rasulullah s.a.w.  di Baqi’ Al-Gharqad yang ketika itu sedang mengantar jenazah salah seorang dari sahabat-sahabatnya.

Aku sudah mengetahui dua tanda pada beliau. Beliau sedang duduk di antara sahabat-sahabatnya, kemudian aku mengucapkan salam kepada beliau. Setelah itu, aku berada dibelakang beliau kerana ingin melihat bahagian belakang beliau; apakah aku dapat melihat tanda kenabian seperti yang dijelaskan sahabatku?

Ketika Rasulullah s.a.w. melihatku berada di belakangnya, beliau mengetahui bahawa aku sedang mencari sifat yang pernah dijelaskan sahabatku. Beliau melempar kainnya dari belakangnya, maka pada saat itulah aku melihat cap kenabian pada beliau.
Kemudian aku kembali ke depan beliau dan menangis. Rasulullah s.a.w.  bersabda kepadaku, ‘Baliklah!’

Aku berbalik arah dan duduk di depan beliau. Aku ceritakan kepadanya semua kisah tentang diriku sebagaimana aku ceritakan kisah ini kepadamu, hai Ibnu Abbas. Rasulullah s.a.w. ingin kisahku ini didengar sahabat-sahabatnya.’ Setelah itu Salman sibuk dengan statusnya sebagai seorang hamba hingga tidak dapat  ikut di dalam Perang Badar dan Uhud bersama Rasulullah s.a.w..

Salman Menebus Kemerdekaannya dengan Bantuan Rasulullah s.a.w.
Salman berkata, “Rasulullah s.a.w.  bersabda kepadaku, “Bebaskan dirimu dengan membayar sejumlah wang, wahai Salman!’

Kemudian aku memerdekakan diriku dari tuanku dengan membayar tiga ratus pohon kurma yang aku tanam untuknya dan emas empat puluh  auns.

Rasulullah s.a.w. bersabda kepada sahabat-sahabatnya, ‘Bantulah saudara kalian ini!’ Sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. memberi bantuan pohon kurma kepadaku. Ada sahabat yang memberi tiga puluh pohon kurma. Ada sahabat yang memberiku dua puluh anak pohon kurma. Ada sahabat yang memberiku lima belas anak pohon kurma. Ada sahabat yang memberiku sepuluh pohon kurma. Setiap orang membantu sesuai kemampuannya, hingga akhirnya terkumpul tiga ratus anak pohon kurma.

Rasulullah s.a.w. bersabda kepadaku, “Pergilah wahai Salman, dan galilah lubang untuk anak-anak pohon kurma ini. Jika engkau telah selesai menggalinya, datanglah kepadaku, agar tanganku sendiri yang meletakkan anak pohon kurma ini ke dalamnya’.”

Salman berkata, “Kemudian aku menggali lubang untuk anak-anak pohon kurma tersebut dengan dibantu sahabat-sahabatku. Ketika itu telah selesai menggalinya, aku menghadap Rasulullah s.a.w. dan melaporkan kepada beliau bahawa aku telah selesai membuat lubang.

Kemudian Rasulullah s.a.w.  pergi bersamaku ke lubang-lubang tersebut. Kami berikan anak pohon kurma kepada beliau dan diletakkannya ke dalam lubang dengan tangannya sendiri hingga proses penanaman selesai.

Demi Dzat yang jiwa Salman berada di Tangan-Nya, tida ada satu pun anak kurma yang mati. Aku pelihara pohon-pohon kurma tersebut dan aku mempunyai sedikit harta. Tidak lama setelah itu, Rasulullah s.a.w. datang dengan membawa emas sebesar telur ayam dari salah satu lokasi pertambangan.

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apa yang telah dikerjakan orang Parsi yang memerdekakan dirinya dengan membayar sejumlah wang?”

Aku dipanggil Rasulullah s.a.w.. Beliau bersabda, “Ambil emas ini, dan bayarlah hutangmu dengannya, wahai Salman!’ Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana emas ini dapat menutup hutangku?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Ambil emas ini, kerana Allah akan menutup hutangmu dengannya.”

Aku ambil emas tersebut kemudian menimbangnya. Demi Dzat yang jiwa Salman berada dalam genggaman Tangan-Nya, ternyata berat emas tersebut adalah empat puluh auns. Kemudian aku bayar hutangku pada tuanku dengan emas tersebut. Setelah itu aku menjadi orang merdeka. Aku dapat mengikuti Perang Khandaq bersama Rasulullah s.a.w. sebagai orang merdeka dan sesudahnya aku tidak pernah melewatkan satu perang pun’.”

Ibnu Ishaq berkata, bahwa Yazid bin Abu Habib berkata kepadaku dari seseorang dari Abdu Al-Qais dari Salman yang berkata, “Ketika aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana emas ini mampu dapat menutupi hutangku?”

Rasulullah S.a.w. memungut emas tersebut dan membolak-baliknya di depan mulutnya. Beliau bersabda, “Ambillah emas ini, hai Salman dan bayar hutangmu pada tuanmu dengan emas ini! Emas tersebut aku ambil, lalu aku bayar hutangku pada tuanku secara penuh; empat puluh auns emas.”

Melalui petunjuk yang ditinggalkan Salman al Farisi r.a. di dalam penceritaan panjang kisahnya, kita mendapati Uskup al Amuriyyah memberikannya petunjuk tentang tanda-tanda dekatnya kelahiran Rasulullah s.a.w..

Bible pada hari ini telah mengalami pengubahsuaian yang dilakukan berkali-kali sejak dari zaman Isa a.s.. Ia bukan lagi kitab yang memuatkan Taurat, Zabur dan Injil yang asal. Ia hakikat yang turut dipersetujui oleh sarjana-sarjana Bible itu sendiri.

Walaupun percubaan demi percubaan telah dilakukan oleh golongan kafir dikalangan ahli kitab yang cuba memadamkan serta mengubahsuai ayat-ayat di dalam kitab mereka yang difikir boleh memberi untung kepada Islam, hakikatnya, perancangan mereka itu tidak dapat mengalahkan perancangan Allah.

Hampir semua ayat di dalam kitab mereka yang merujuk kepada Rasulullah s.a.w. secara terang dan jelas telah dipadamkan, dihilangkan serta diubah. Itu rancangan mereka. Tetapi apa yang tidak disedari mereka ialah ayat-ayat yang hanya boleh difahami secara tersirat yang merujuk kepada Muhammad s.a.w. masih banyak terdapat di dalam kitab mereka.

Penulisan kali ini akan menyentuh beberapa petunjuk.

 1. Bagaimana Uskup (Bishop) al Amuriyyah dapat mengagak penutup segala nabi dan rasul sudah dekat kemunculannya.

2. Bila saat tepat ahli kitab perlu bergabung dengannya.

3. Lokasinya.

3. Ciri-ciri kenabian yang ada pada nabi dan rasul tersebut.

1. Bagaimana Uskup (Bishop) al Amuriyyah dapat mengagak penutup segala nabi dan rasul sudah dekat kemunculannya.

Saya sangat percaya bahawa apa yang dibentangkan di bawah sub-tajuk ini, hanyalah merupakan tanda-tanda tersirat yang tidak sempat diubah oleh golongan ahli kitab. Hampir ke semua tanda-tanda yang jelas sudah dipadamkan dan diubah. Ianya dilakukan sejak dari dahulu sehingga ke saat ini.

Tetapi, ia tidak menghalang pihak-pihak yang mahu mengkaji tentang tanda-tanda yang disebutkan tersebut untuk menemuinya. SesungguhNya perancangan Allah itu lebih hebat.

Apabila  Salman al Farisi meminta nasihat  dari Uskup al Amuriyyah tentang ke mana hala tuju dirinya untuk mendekatkan diri dengan orang-orang yang beriman kepada Allah, Uskup itu memberikan jawapan berikut:

“Anakku, demi Allah, sungguh aku tidak tahu pada hari ini ada orang-orang yang seperti kita yang engkau dapat aku perintahkan pergi kepadanya, namun telah dekat datangnya seorang Nabi. Ia diutus dengan membawa agama Ibrahim a.s.  dan muncul di negeri Arab. Tempat hijrahnya adalah daerah di antara dua daerah yang berbatu dan di antara dua daerah tersebut terdapat kurma. Nabi tersebut mempunyai tanda-tanda yang tidak mampu disembunyikan; ia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat cap kenabian.

 Tiada lagi orang-oarang beriman yang mampu dipercayai pada ketika itu. Tetapi satu harapan menggunung tentang satu peristiwa besar yang bakal berlaku. Apabila Uskup al Amuriiyah menyatakan bahawa telah dekat datangnya seorang nabi, jelas di sini, ahli kitab dikalangan Yahudi dan Nasrani sangat arif tentang tanda-tanda yang sentiasa mereka peka memberikan perhatian kepadanya. Malang sekali, mereka telah menyembunyikan semua tanda-tanda berikut sebaik sahaja mereka mengetahui Muhammad s.a.w. dilahirkan bukan dikalangan bangsa mereka.

Beberapa tanda mudah berikut mungkin diperhatikan golongan ahli kitab sehingga mereka membuat kesimpulan dengan yakin bahawa kedatangan Rasulullah s.a.w. sudah semakin dekat. Sebenarnya di dalam walaupun di dalam bentuknya yang telah mengalami korupsi seperti hari ini, tanda-tanda yang menunjukkan dengan tepat kelahiran Muhammad s.a.w. masih wujud di dalam pernyataan ayat-ayat yang hanya boleh difahami secara tersirat.

Cahaya Hidayah Akan Diberikan Kepada Kaum Jahiliah
Sebelum kemunculan Muhammad s.a.w., manusia-manusia yang berada disekeliling tempat kelahirannya akan tercampak ke dalam satu fasa kejahilan yang menebal. Orang-orang Arab pada ketika itu sangat dipandang rendah oleh manusia-manusia lain yang lebih bertamadun dimukabumi. Sebagaimana yang telah pun semua orang tahu, orang-orang Arab, sebelum dan semasa kelahiran Muhammad s.a.w. sentiasa disebut dan dirujuk sebagai kaum jahiliah.

Ini merupakan fasa kegelapan. Gelap dari pedoman dan sistem kehidupan berakhlak dan bertamadun. Mereka hidup berlandaskan nafsu dan perang menjadi pilihan mereka untuk menyelesaikan sesuatu pertikaian hatta perkara yang kecil sekalipun.

Walaubagaimanapun, zaman gelap yang dilalui oleh orang-orang Arab pada ketika itu sentiasa diberikan perhatian oleh ahli kitab yang mengetahui sesuatu yang sering mereka rahsiakan dari pengetahuan ramai.

Telah diberitakan kepada ahli kitab oleh Nabi Isaiah (Yesaya) sepertimana yang dipercayai mereka di dalam kitab Isaiah fasal 9 seperti berikut :

Isaiah fasal 9
Nevertheless the dimness shall not be such as was in her vexation, when at the first he lightly afflicted the land of Zebulun and the land of Naphtali, and afterward did more grievously afflict her by the way of the sea, beyond Jordan, in Galilee of the nations.
The people that walked in darkness have seen a great light: they that dwell in the land of the shadow of death, upon them hath the light shined.
Thou hast multiplied the nation, and not increased the joy: they joy before thee according to the joy in harvest, and as men rejoice when they divide the spoil.
For thou hast broken the yoke of his burden, and the staff of his shoulder, the rod of his oppressor, as in the day of Midian.
For every battle of the warrior is with confused noise, and garments rolled in blood; but this shall be with burning and fuel of fire.
For unto us a child is born, unto us a son is given: and the government shall be upon his shoulder: and his name shall be called Wonderful, Counsellor, The mighty God, The everlasting Father, The Prince of Peace.
Of the increase of his government and peace there shall be no end, upon the throne of David, and upon his kingdom, to order it, and to establish it with judgment and with justice from henceforth even for ever. The zeal of the Lord of hosts will perform this.

Selama lebih 2,000 tahun, para sarjana Bible berkeras menyatakan bahawa Penyelamat yang bakal dilahirkan sepertimana yang dijanjikan Isaiah di dalam ayat 6 kitab Isaiah fasal 9 di atas merujuk kepada Jesus (Isa a.s.) yang diimani mereka sebagai salah satu dari 3 Tuhan yang terpisah tetapi bersatu.
Islam tetap menyatakan bahawa Isa a.s. itu merupakan seorang manusia mulia, dipilih Allah sebagai nabi dan rasul, serta diberikan Allah pelbagai kelebihan berupa mukjizatdan tetap diimani oleh orang-orang Islam sebagai salah seorang dari rasul-rasul Allah yang hebat.

Tetapi setelah mengkaji keseluruhan kitab Isaiah dan Isaiah fasal 9 di atas, saya mendapati terdapat salah faham, samada disengajakan ataupun tidak, oleh sarjana-sarjana Bible dengan mendakwa ayat 6 tersebut merujuk kepada Jesus. Menolak ayat tersebut merujuk kepada Jesus (Isa a.s.) bukanlah dengan niat untuk memperkecilkan peranan dan sumbangannya ketika hayatnya berkhidmat kepada Allah hampir 2,000 tahun yang lalu, tetapi ia dilakukan bagi memperbetulkan kembali konteks kefahaman sebenar dan tentang siapa sebenarnya ayat-ayat di dalam Isaiah tersebut merujuk.

Salah faham sarjana-sarjana Bible tersebut mungkin berlaku kerana mereka mentafsirkan ayat 6 tersebut diluar konteks. Untuk memahami siapa Sar Shalom (Putera Keamanan) yang bakal lahir ke dunia sepertimana yang disebutkan di dalam ayat 6 kitab Isaiah fasal 9 di bawah, konteks ayat-ayat sebelumnya perlu ditelitikan, dikaji serta difahami.

For unto us a child is born, unto us a son is given: and the government shall be upon his shoulder: and his name shall be called Wonderful, Counsellor, The mighty God, The everlasting Father, The Prince of Peace.

Untuk itu, saya akan menjelaskan satu persatu konteks ayat 1 hingga 7 di dalam Kitab Isaiah fasal 9 di atas dalam batasan masa dan ruang penulisan terhad yang dapat saya luangkan ini.

Sebenarnya, Isaiah fasal 9 bukan sahaja menceritakan tentang Nabi dan Rasul terakhir yang bakal dikirimkan ke dunia, tetapi dalam masa yang sama menyatakan perkara-perkara berikut sebagai tanda-tanda yang menunjukkan bahawa tempoh kedatangan Sar Shalom itu sudah benar-benar hampir.

Ayat 1 hingga 2 Isaiah fasal 9 Memberitahu Kepada Siapa Hidayah akan diberikan.
Perhatikan ayat 1 dan 2 Isaiah fasal 9 di bawah :

Nevertheless the dimness shall not be such as was in her vexation, when at the first he lightly afflicted the land of Zebulun and the land of Naphtali, and afterward did more grievously afflict her by the way of the sea, beyond Jordan, in Galilee of the nations.
The people that walked in darkness have seen a great light: they that dwell in the land of the shadow of death, upon them hath the light shined.

Ayat di atas jika dibaca sekali lalu dan tidak diberikan perhatian, ianya tidak akan sesekali membantu untuk memahami konteks ayat di dalam Isaiah fasal 9 ini. Isaiah memberitahu, bahawa telah diwahyukan kepadanya suatu kepastian yang bakal berlaku di masa hadapan. Satu kepastian di mana bangsa-bangsa yang dikenali hidup dalam kehidupan sesat dan tanpa hidayah, akan kembali diberikan Tuhan peluang mendapat cahaya petunjuk.

Apa yang menarik tentang ayat 1 dan 2 di atas ialah, ciri-ciri bangsa tersebut yang akan diberikan petunjuk dan hidayah dijelaskan Isaiah. Mereka adalah sepertimana suku Zabulum dan Naphtali, yang berasal dari keturunan Abraham melalui Isaac dan kemudian Jacob. Suku Zebulun dan Naphtali suatu ketika dahulu merupakan umat pilihan Tuhan dan sangat terkenal dengan kekuatan serta keupayaan bangsa mereka di dalam memperjuangkan agama. Sumbangan yang diberikan mereka sehinggakan mampu membolehkan David (Daud a.s.) menduduki takhta sebagai Raja Kepada Bani Israel suatu ketika dahulu.

Suku Zebulun sentiasa dikenali sebagai suku yang berani dan tidak pernah gentar dengan peperangan. Malah beberapa kali di dalam Bible, keberanian mereka mendapat pujian. Kitab 1 Chronicles fasal12 ayat 33, memuji mereka sebagai “loyal men not having a double heart”. Begitu juga suku Naphtali, mereka menjadi suku-suku yang memberikan kekuatan kepada nabi-nabi yang diutus kepada Bani Israel.
Tetapi mereka yang dikenali sebagai umat pilihan Tuhan, telah dilucut keistimewaan dan kerajaan-kerajaan yang menempatkan kekuatan mereka telah dihancurkan melalui serangan orang asing. Semua itu berlaku kerana mereka menjauhkan diri dari arahan Tuhan. Mereka kembali menyembah berhala dan kembali hidup sebagai orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.

Begitu juga dengan kaum yang bakal mendapat hidayah sepertimana yang disebut Isaiah di dalam Isaiah fasal 9.  Kaum yang bakal mendapat hidayah ini juga mempunyai sejarah mempunyai darah keturunan Abraham. Pernah hidup sebagai manusia-manusia beriman, dan kemudiannya berubah menjalani kehidupan jahiliah setelah jauh dari ajaran agama Nabi Ibrahim a.s. yang sebenar.

Dengan hidayah diberikan kepada kaum baru ini, penduduk-penduduk yang tinggal di wilayah Zebulun dan Naphtali, termasuk daerah melangkaui Jordan dan Galilee akan turut mendapat cahaya hidayah.
Jelas di sini, kaum yang bakal menerima cahaya hidayah tersebut, akan mempunyai sedikit sebanyak persamaan dengan suku Zebulun dan Naphtali dari segi asal keturunan dan kejahilan yang menyelubungi mereka setelah jauh dari petunjuk yang asal.

Jika saya menyatakan kaum yang dirujuk oleh Isaiah sebagai bakal mendapat hidayah nanti merujuk kepada Bani Ismail (yang membentuk suku-suku Arab), pasti ramai yang masih sangsi kerana hujah mengaitkan apa yang berlaku kepada suku Zebulun dan Naphtali sebagai perkara yang hampir sama berlaku kepada Bani Ismail masih belum kuat untuk disandarkan sebagai hujah.

Benar , jika sekadar menggunakan hujah ayat 1 dan 2  tersebut, ianya tidak cukup kuat untuk disandarkan. Tetapi, penelitian kepada ayat-ayat seterusnya di dalam Kitab Isaiah fasal 9 menunjukkan dengan lebih jelas, bahawa sememangnya bangsa Arab merupakan bangsa yang menjadi rujukan kepada ramalan Isaiah. Malah jika ditelitikan dengan mendalam, Isaiah juga telah menyatakan bila dan di mana lokasi Sar Shalom akan dilahirkan.

Untuk memahami semua itu, kita telitikan pula ayat-ayat seterusnya.

Ayat 3 dan 4, Merujuk Kepada Keadilan Yang dikembalikan semula kepada Bangsa Arab.
Ayat 3 dan 4 Isaiah fasal 9 adalah seperti berikut :

Thou hast multiplied the nation, and not increased the joy: they joy before thee according to the joy in harvest, and as men rejoice when they divide the spoil.
For thou hast broken the yoke of his burden, and the staff of his shoulder, the rod of his oppressor, as in the day of Midian.
Sepertimana yang telah saya hujahkan sebelum ini untuk ayat 1 dan 2 yang dikatakan merujuk kepada suku-suku Arab yang mempunyai pertalian darah dengan Abraham (Ibrahim a.s) sepertimana suku Zebulun dan Naphtali, ayat 3 dan 4 ini akan membuktikan dengan lebih jelas bahawa sememangnya suku-suku Arablah yang dirujuk Isaiah sebagai suku-suku yang hidup secara jahiliah dan bakal diberikan hidayah.

Apabila ayat 3  menyatakan bahawa bangsa yang hidup di dalam kegelapan (jahiliah) tersebut, merupakan bangsa yang telah berkembang biak dengan ramainya, tetapi ramainya jumlah mereka, tidak memberikan sinar kebahagiaan kepada mereka sebelum ini.

Kegembiraan itu hanya diperolehi kembali oleh mereka setelah Tuhan memberikan mereka cahaya hidayah. Kegembiraan itu digambarkan di dalam ayat 4, sebagaimana gembiranya manusia apabila harta yang dituai itu dibahagikan samarata.

Bani Ismail (yang menjadi suku-suku Arab), merupakan bangsa yang telah dikembangbiakkan. Ia sebahagian dari janji Tuhan kepada mereka sebelum ini. Ia dicatatkan di dalam Kitab Genesis fasal 21 ayat 18 seperti berikut :

Arise, lift up the lad, and hold him in thine hand; for I will make him a great nation.
Tuhan berkata demikian kepada Hagar (Siti Hajar a.s.) ketika beliau risaukan anaknya Ishmael(Ismail a.s.) yang menangis kerana terlalu lapar dan dahaga ditinggalkan di tengah-tengah padang pasir di dalam wilayah yang dikenali sebagai Gurun Paran (Mekah terletak di dalamnya).

Perjanjian Tuhan dengan Abraham dan Ishmael, bahawa anak keturunan mereka akan menjadi hamba-hamba Tuhan dan Tuhan berkenan kepada mereka sebagai hamba-hambaNya telah termetarai. Meterai perjanjian itu dikhatamkan melalui perbuatan Abraham dan Ishmael serta seluruh ahli keluarga mereka berkhatan mengikut arahan Tuhan. Lelaki-lelaki yang tidak berkhatan setelah perjanjian antara keturunan Abraham dan Ishmael ini, adalah tidak termasuk dalam kategori mereka-mereka yang mempunyai perjanjian dengan Tuhan. (Genesis fasal 17 ayat 7 hingga 14).

Tetapi ahli-ahli Kitab dari kalangan bangsa Yahudi telah melakukan penipuan dengan mengubah kitab mereka sehinggakan kedudukan Ishmael dan keturunannya telah dianggap sebagai tidak termasuk umat pilihan Tuhan.

Mengikut hukum harta warisan Yahudi, anak yang sulung lebih berhak ke atas harta warisan keluarga berbanding anak-anak lain. Tetapi Bani Israel telah melakukan penipuan dengan memasukkan cerita-cerita yang menunjukkan Ishmael dan anak-anak keturunannya terbuang dan tidak termasuk di dalam perjanjian Tuhan. Sedangkan pada hakikat sebenarnya,  Ishmael-lah yang merupakan waris yang berhak ke atas perjanjian tersebut atas alasan, beliau merupakan anak sulung dan perjanjian tersebut dimeterai bersama Abraham, pada usianya 13 tahun (mencapai Mitzvah-Akil Baligh, umur yang sah untuk memeterai sebarang perjanjian), dan perjanjian tersebut dimeterai setahun sebelum kelahiran Isaac (Ishak a.s.). Perkara mengenai Perjanjian Abadi ini pernah saya tulis satu ketika dulu dan boleh di baca disini (http://satuhala.blogspot.com/2009/11/palestin-sebuah-post-mortem-3.html)
Butiran perjanjian tersebut di dalam Kitab Genesis fasal 17 adalah seperti berikut:

17:7 And I will establish my covenant between me and thee and thy seed after thee in their generations for an everlasting covenant, to be a God unto thee, and to thy seed after thee. 17:8 And I will give unto thee, and to thy seed after thee, the land wherein thou art a stranger, all the land of Canaan, for an everlasting possession; and I will be their God. 17:9 And God said unto Abraham, Thou shalt keep my covenant therefore, thou, and thy seed after thee in their generations. 17:10 This is my covenant, which ye shall keep, between me and you and thy seed after thee; Every man child among you shall be circumcised. 17:11 And ye shall circumcise the flesh of your foreskin; and it shall be a token of the covenant betwixt me and you. (dan Aku akan memeterai Perjanjianyang kekal Abadi antara Aku dengan keturunanmu selepas dari kamu di dalam generasi mereka dengan Perjanjian yang Kekal Abadi, menjadi Tuhan kepadamu dan keturunan-keturunanmu selepas dari kamu. 17:8 dan akan Aku berikan kepadamu, dan keturunanmu selepas dari kamu, negeri di mana kamu kini sebagai orang asing, keseluruhan Canaan, sebagai hakmilik abadi; dan aku akan menjadi Tuhan mereka. 17:9 dan Tuhan berkata kepada Abraham; hendaklah kamu dan keturunan-keturunanmu selepas kamu berpegang teguh dengan perjanjian tersebut di dalam generasi mereka. 17:10 Inilah perjanjianKu yang mana harus engkau pegang, anatara Aku dan kamu dan keturunanmu selepas kamu; Setiap lelaki dewasa dan kanak-kanak hendaklah kamu khatankan. 17:11 dan haruslah dikerat kulit khitanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.)
Rombakan kepada perjanjian tersebut telah dibuat oleh ahli kitab dengan memasukkan butiran ayat 19 hingga 22 Kitab Genesis fasal 17 yang dengan tidak adilnya mengeluarkan Ishmael sebagai waris yang berhak ke atas Perjanjian Abadi antara Tuhan dan keturunan Abraham.

Hanya setelah memahami senario ketidakadilan yang telah dilakukan Bani Israel kepada Bani Ismail (suku-suku Arab), barulah konteks ayat 3 di dalam Isaiah fasal 9 ini dapat difahami. Apabila Tuhan menyatakan kepada Isaiah bahawa hidayah yang bakal diberikan kepada suku manusia yang selama ini hidup dalam kejahilan, akan memberikan mereka satu perasaan gembira seolah-olah mereka telah diberikan hak yang sama rata di dalam pembahagian hasil tuaian. Ini menunjukkan, hak mereka sebagai waris kepada Perjanjian Abadi antara keturunan mereka semasa Ishmael menyempurnakannya dengan bersama-sama berkhatan dengan ayahandanya Abraham, dikembalikan kepada mereka secara adil. Jelas di sini ayat 3 sedikit sebanyak menguatkan hujah bahawa orang-orang jahiliah yang rujuk Isaiah sebagai manusia-manusia yang akan diberikan peluang mendapat hidayah itu merujuk kepada orang-orang dari Bani Ismail yang membentuk suku-suku Arab pada masa hidayah tersebut diberikan.

Apa pula yang cuba disampaikan ayat 4 Kitab Isaiah fasal 9. Penjelasannya seperti dalam bahagian seterusnya.

InsyaAllah bersambung 25 September 2012, 11:50 malam.



© 2012 Muhammad Ibn 'Az. Hakcipta terpelihara. 
Perhatian... Kepada pembaca yang berminat untuk menyalin artikel-artikel yang terdapat dalam blog ini ke mana-mana blog-blog atau email bagi tujuan perkongsian ilmu dan dakwah dan bukan bagi tujuan komersil, anda dibenarkan untuk berbuat demikian dan pihak kami berharap agar pihak anda dapat menyatakan dengan jelas www.satuhala.blogspot.com sebagai sumber artikel-artikel ini diambil. Semua artikel dalam blog ini merupakan hasil karya Muhammad Ibn 'Az. Semoga semua ilmu yang dikongsi akan memberi manfaat kepada semua. Semua artikel hasil karya Muhammad Ibn 'Az didalam blog ini ini dilindungi dibawah Akta Hakcipta 1987. Semua penulisan di dalam blog ini ditulis dan digarapkan bagi tujuan membantu semua orang Islam dan pihak-pihak yang mahu memahami Islam menangkis fitnah, propaganda, polemik yang cuba ditimbulkan serta bagi membantu menyedarkan muslim tentang apa sahaja perkara yang sedang berlaku disekeliling mereka. Jika terdapat rakan-rakan pengunjung yang bukan Islam mendapati isikandungan penulisan di dalam blog ini tidak selari dengan apa yang difahami mereka di dalam agama mereka, mereka bolehlah membuat kajian dan penelitian sendiri, termasuk mendapatkan rujukan dari pihak yang professional dan pakar di dalam bidang mereka bagi mendapat satu kepastian jelas untuk membantu mereka membuat penilaian. Setiap manusia diberikan kebebasan untuk memilih apa yang betul dan benar untuk menjadi pegangan hidup mereka. Jadi, carilah kebenaran dengan membuat kajian, penelitian dan siasatan sendiri supaya dapat membantu anda mencapai satu keputusan yang tidak dipaksakan oleh mana-mana manusia untuk anda mengikutinya. Setiap jalan yang dipilih adalah atas keputusan anda setelah penilaian dan kajian memberikan satu bentuk kepuasan kepada akal fikiran anda sebagai manusia di dalam mencari kebenaran. Blog ini dan segala isikandungannya adalah untuk Muslim. Sebagai penulis blog ini, saya sudah mengambil segala langkah mengikut kemampuan, pengetahuan serta keupayaan saya untuk memastikan setiap penulisan di dalam blog ini keseluruhan strukturnya memaparkan isikandungan yang benar. Tetapi saya ingin menegaskan kepada semua pengunjung supaya semua isikandungan blog ini ditelitikan, diperiksa dan dikaji terlebih dahulu sebelum membuat sebarang keputusan untuk menggunakannya dan mempercayainya. Semua pengunjung dinasihatkan untuk mencari kebenaran melalui penelitian, kajian, pemeriksaan dan kepastian sendiri. Jadikan ini sebagai satu budaya. Sebagai manusia, kesilapan boleh berlaku di mana-mana dan pada bila-bila masa. Sekiranya ada kesilapan, saya memohon jutaan maaf dan harap dapat maklumkan supaya dapat diperbetulkan. Terima kasih atas kunjungan anda. 

2 comments:

Aku rindu dia...sampai saat baca posting ni..masih sebak..ntah kenapa...tp layakkah manusia berdosa spt aku menatap wajah manusia agung ini...aku malu dgn dosa dosa yang terlalu byk...aku bertobat..aku buat balik..aku bertobat..aku buat balik...andai kata saat itu tiba..aku malu berdepan dgn mu ya rasulullah...
 
bagus, artikel menarik dari sejarah lama...teruskan
 

Berminat.. Sebarkan Supaya Manfaatnya Lebih Meluas

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow by Email